Kondisi Ketersediaan Pangan terhadap Ketahanan Pangan di Kecamatan jaten kabupaten Karanganyar,
Jawa Tengah
(Yuli Isnawati, 23020117120xxx)
Teknologi Pangan A 2017
Sasaran pembangunan dalam bidang pangan yaitu ketersediaan pangan terkecukupi dan
diversifikasi
pangan yang meningkat. Pencapaian tersebut dapat diraih dengan meningkatkan ketahanan
pangan melalui upaya peningkatan produksi, konsumsi masyarakat, pemasaran/distribusi,
kemampuan penyediaan pangan serta kebijakan harga. Suatu daerah tergolong mempunyai ketahanan pangan yang tinggi apabila
ketersedian pangannya memadai, memiliki keragaman dan memiliki
mutu
gizi yang seimbang setiap saat.
Kecukupan tersebut mengandung pengertian bahwa ketersediaan pangan dapat diperoleh terus menerus, merata
di setiap daerah dan tejangkau oleh daya beli masyarakat sehingga terpenuhi
kebutuhan gizi masyarakat(Prinstrup,
2009) Kecukupan
pangan yang berasal dari hasil pertanian dan peternakan sebagai tolak ukur
perkembangan perekonomian di Indonesia,
sehingga sangat penting untuk membangunnya, karena pangan sebagai salah satu
bagian pembangunan
bangsa Indonesia. (Lipper et al,
2014)
Menurut
Adawiyah dan Rusdiana (2012), bahwa akhir-akhir ini isu ketahanan pangan
kembali menyeruak ketika dilanda bencana alam yang berkepanjangan seperti musim
kemarau krisis air dan musim hujan banjir, sehingga akan terjadi kerawanan
pangan tetapi kehawatiran tersbeut cukup aman dan terkendali. Naiknya harga pangan yang diakibatkan
terjadinya iklim di Indonesia yang tidak dapat diprediksi, sementara ini harga
pangan setiap tahunnya selalu meningkat mengakibatkan kemerosotan perekonomian
dimasyarakat meningkat. Banyak masyarakat
yang mengeluh karena naiknya harga pangan yang tidak untuk dikonsumsi dan
naiknya bahan bakar minyak, gas dan listrik, mengakibatkan masyarakat diplosok
pedesaan mengeluh dan jatuh miskin, untuk itu pemerintah harus cepat tanggap,
agar hal tersebut tidak menjadi beban pemerintah. Menurut Rusdiana dan Maesya (2017) bahwa
sesuai dengan perkembangan era globalisasi dan liberalisasi perdagangan bebas,
beberapa komoditas pangan telah menjadi komoditas yang semakin strategis.
Dinamika ketidak pastian dan ketidak stabilan produksi pangan secara nasional
dan senantiasa banyak mengandalkan pada ketersediaan pangan di pasar impor
dunia.
Ketersediaan
dan kebutuhan pangan baik pada tingkat keluarga, masyarakat dan wilayah antara
lain dipengaruhi oleh faktor jumlah penduduk, tingkat dan ragam pangan yang
diproduksi.. Pendekatan yang dipakai adalah tingkat produksi (supply) atau
ketersediaan dibandingkan dengan jumlah
penduduk.
Hal utama yang menjadi pusat khusus dalam
mengidentifikasi bagaimana ketersediaan pangan dikecamatan jaten adalah pasokan
beras, karena beras merupakan makanan pokok bagi masyarakat, jika kebutuhan
pokok tersedia dengan baik, maka dipastikan ketahanan pangan akan baik juga,
meski masih ada faktor-faktor lain yang harus diperhatikan tak hanya sumber
karbohidrat saja, melainkan sumber protein, mineral dan zat-zat miror dan mayor
. Permasalahan yang terjadi saat ini adalah pertumbuhan penduduk mengalami
kenaikan per tahunnya, hal ini akan berdampak semakin sempitnya lahan untuk
pertanian, yang mengakibatkan produksi bahan pangan berkurang.
Pada tahun 2009 jumlah penduduk kecamatan jaten kabupaten karanganyar
sebanyak 70.993 jiwa, terdiri dari 35,219 laki-laki dan 35.744 perempuan.
Kemudian pada tahun 2010 mengalami peningkatan sebanyak 116 orang menjadi
71.109 jiwa. Pada tahun 2011 BPS melakukan pemutahiran data sehingga jumlah
penduduk jawa tengah menjadi 80.726 jiwa yang terdiri dari 39.936 laki-laki dan
40.790 perempuan. Data BPS pada tahun
2012 penduduk jawa tengah tercatat sebanyak 80.766 jiwa sedangkan pada tahun 2013
jumlah penduduk meningkat menjadi80.901 jiwa terdiri dari 39.807 laki laki dan
41.094 perempuan. Pertumbuhan penduduk ini megakibatkan peningkatan kebutuhan
perumahan yang berakibat berkurangnya ketersediaan bahan pangan yang ada (BPS,
2009-2013).
Ketersediaan bahan
pangan di Jawa Tengah semakin menurun seiring bertambahnya tahun Produksi padi
mengalami penyusutan tiap tahunnya. Pada tahun 2014 produksi padi sebesar
19.375,5 ton, Pada tahun 2015 mengalami penyusutan menjadi 18.765,3 ton. Pada
tahun 2016 sebesar 18.137,1 ton, pada tahun 2017 mengalami penurunan yang
banyak menjadi 17.490,2 ton dan pada tahun ini 2018 produksi padi sebesar
16.824,2 ton dengan asumsi produktivitas 6,44 ton/ha.Jika dikonversi padi ke
beras maka didiketahui hasil bahwa pada tahun 2014 sampai 2018 ini pasokan
beras mengalami penyusutan sebesar 7,3%. Pada tahun 2018 ini produksi beras
sebesar 9.784,93, padahal pada tahun 2017 produksi beras sebesar 10.172,31.(BPS,
2014-2018) Mengacu pada perkiraan konsumsi beras/kapita/tahun sesuai susenas
,maka produksi beras dikecamatan jaten
pada tahun 2018 diperkirakan sudah berada pada ambang batas minimal. Melihat
data tersebut jumlah pertumbuhan penduduk dengan ketersediaan beras tidak
sebanding,diperkirakan pada tahun 2020 nanti produksi beras sudah mengalami
kekurangan sebesar - 69,7 ton dengan asumsi rata-rata konsumsi beras 102,7
kg/kapita/tahun, jika itu terjadi maka dampaknya masyarakat akan kelaparan dan
kekurangan gizi, tidak hanya itu efektivitas kerja pun akan berkurang. Salah
satu upaya untuk mengurangi ketidaksebandingan antara jumlah penduduk dan
ketersediaan pangan adalah dengan peran pemerintah yaitu dilakukan program
migrasi ke suatu wilayah yang memiliki lahan yang luas dan berkecukupan,
melakukan program turun desa memperkenalkan masyarakat desa terhadap substitusi
pangan, bahwa masih banyak bahan pangan
yang bisa menggantikan beras, seperti jenis umbi-umbian, gandum, dll,
memberikan keringanan bagi petani yang menanam padi dalam pembayaran pajak PBB,
Memberikan peminjaman untuk modal petani dengan suku bunga yang relatif kecil
dengan jangka waktu yang relatif lama agar mempermudah petani, menjaga
stabilitas pasokan beras dan insentif harga, memperbaiki sistem irigasi, karena
masalah utama atas ketidakberhasilan dalam panen adalah kurangnya ketersediaan
air, melakukan pengembangan lembaga dan jaringan bisnis dan terakhir perlu
adanya penambahan alokasi dana APBD bidang pertanian untuk pemberian insentif
bagi petani penanam padi dalam rangka menjaga kestabilan ketahanan pangan
wilayah.
Dapat disimpulkan bahwa kondisi ketersediaan pangan dikecamatan
jaten cukup memprihatinkan ditinjau dari ketersediaan sumber pangan pokok yaitu
beras, produktivitas padi yang semakin menurun tiap tahunnya, tercukupinya
ketersediaan pangan itu sangat penting dalam mencapai ketahanan pangan, perlu
adanya pengawasan untuk mengontrol wilayah-wilayah yang sedang krisis dalam
pemenuhan kebutuhan pokoknya. Peran pemerintah sangat diperlukan dalam hal ini
untuk mengendalikan krisis yang terjadi.
Daftar Pustaka
Adawiyah, C.R
dan S. Rusdiana. 2017. Analisis ekonomi dan prospek usaha tanaman dan ternak
sapi dilahan perkebunan kelapa. J. SEPA (Social Economic and Agribusiness ). 10(1): 118-131
BPS 2009, Kecamatan Jaten Dalam Angka2009, Karanganyar :
BPS
BPS 2010, Kecamatan Jaten Dalam Angka 2010, Karanganyar :
BPS
BPS 2011, Kecamatan Jaten Dalam Angka 2011, Karanganyar :
BPS
BPS 2012, Kecamatan Jaten Dalam Angka 2012, Karanganyar :
BPS
BPS 2013, Kecamatan Jaten Dalam Angka 2013, Karanganyar :
BPS
BPS 2014, Kecamatan Jaten Dalam Angka 2014, Karanganyar :
BPS
BPS 2015, Kecamatan Jaten Dalam Angka 2015, Karanganyar :
BPS
BPS 2016, Kecamatan Jaten Dalam Angka 2016, Karanganyar :
BPS
BPS 2017, Kecamatan Jaten Dalam Angka 2017, Karanganyar :
BPS
Lipper, L., P.
Thornton, B.M. Campbell., T. Baekader., A. Braimoh., M. Bwalya dan R. Hottle.
2014. Climate-smart agriculture for food security. Nature Climate Change
Journal. 4(12) :1068
Prinstrup, A .
P. 2009. Food security: definition and measurement. Food Security Journal. 1(1): 5-7
Rusdiana, S dan A. Maesya. 2017. Pertumbuhan
ekonomi dan kebutuhan pangan di Indonesia. J. Agriekonomika. 6(1): 12-25
Wibowo, C. S.
2015. Dampak pengalihan fungsi lahan sawah pada produksi padi sampai tahun 2018 dan implikasinya terhadap
ketahanan pangan wilayah (Studi di Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar
Provinsi Jawa Tengah). J. Ketahanan Nasioanal. 2(1): 107-117